Bukan Lockdown, Indonesia Punya Dasa Wisma untuk Tuntaskan Corona

Home / Kopi TIMES / Bukan Lockdown, Indonesia Punya Dasa Wisma untuk Tuntaskan Corona
Bukan Lockdown, Indonesia Punya Dasa Wisma untuk Tuntaskan Corona Kiagus Firdaus adalah Direktur TIMES Indonesia.

TIMESMATARAM, JAKARTA – Genap sudah satu bulan Indonesia menderita pandemi corona. Tepat 2 Maret 2020 yang lalu di istana negara, Presiden RI Joko Widodo mengumumkan pasien pertama positif covid-19. 

Hari ini, Kamis (2/4/2020) pukul 15:50 WIB, jumlah pasien positif bertambah. Dari 113 orang menjadi 1.790. Di mana 13 orang pasien meninggal dunia menambah daftar panjang 170 orang yang wafat. 

Bersyukurnya, masih ada 9 orang tambahan yang berhasil sembuh. Jadi total ada 112 pasien telah sembuh sejauh ini.

Namun kita sama sekali tak boleh lengah. Khususnya ketika jumlah pasien positif masih terus meningkat dari hari ke hari. Bahkan sebuah media besar di Jerman menuliskan Indonesia merupakan negara dengan jumlah kematian yang tinggi. Faktanya memang di Asia Tenggara kita berada di atas Vietnam, Singapura, dan Brunai.

Kondisi ini membuat perekonomian semakin lesu. Tak menentu. Diperparah dengan pemerintah yang tampak kebingungan. Bingung secara struktural. Juga instruksi. 

Kita saksikan sendiri, ketika pemerintah pusat dan pemerintah daerah berbeda pendapat. Jakarta maju mundur ingin karantina wilayah. Surabaya juga merevisi rencana karantina wilayah jadi pembatasan sosial berskala besar. Ini tentunya membingungkan untuk rakyat yang hanya bisa menunggu dan pasrah dengan keadaan.

Kebijakan bisa ditunggu. Tapi rasa lapar tidak. Masyarakat akhirnya tetap keluar rumah melakukan mobilitas. Ke sana dan kemari. Demi memutar roda ekonomi.

Bukan bandel. Ini memang keadaan yang serba dilematis. Ketika mereka memaksa diri untuk berdiam diri di rumah, tidak ada yang bisa menjamin keroncongan perut mereka tak lagi berbunyi.

Istilah lockdown yang digaungkan banyak negara juga dipermasalahkan. Katanya. Tak sesuai dengan jati diri bangsa. Tapi sampai saat ini jati diri bangsa itu juga tak kunjung ditemukan.

Sekarang kita coba tengok Wuhan. Kota pademik pertama yang secara berangsur-angsur bisa pulih dari wabah ini. Walau pun di sanalah virus ini pertama kali berkembang.

Ternyata yang menjadi kunci adalah kesatuan instruksi dan komunikasi yang berjalan dengan baik sampai tingkat bawah. Di mana ketika semua warga diminta berada di rumah, masing-masing keluarga atau pribadi secara struktural melaporkan kondisi kesehatan serta kemampuan finansialnya ke tingkatan pemerintahan yang paling bawah.
  
Jika kita mau kembali membahas jati diri bangsa ini, kita telah mempunyai struktural pemerintahan yang komplet. Mulai dari tingat negara, provinsi, kabupaten-kota, sampai rukun tetangga (RT). Rukun tetangga ini lah jati diri bangsa kita. Apa maksudnya?

Di dalam rukun tetangga atau RT kita memiliki warisan leluhur berupa gotong royong dan Dasa Wisma. Dasa Wisma kita tahu adalah sebuah program yang terdiri dari ibu-ibu PKK. Di mana ibu-ibu itu berasal dari 10 Kepala Keluarga (KK) dalam sebuah kampung. 

Melalui kelompok ini kondisi warga dapat diketahui dengan detail. Bagaimana kondisi jumlah keluarga, kondisi kesehatan keluarga, bahkan kondisi keuangannya.

Maka Dasa Wisma bisa diandalkan menjadi ujung tombak pelaksanaan isolasi diri setiap warga. Setiap 10 KK dapat terpantau dan selalu terlaporkan kondisinya. 

Saya sebutkan sebuah studi kasus yang terjadi di Kelurahan Pandanwangi, Kota Malang. Ada seorang warga yang diam-diam berada di rumah selama beberapa hari karena dirinya merasakan gejala-gejala Covid-19. Tak berani melapor. 

Beberapa hari kemudian tetangga sebelahnya mengetahui kondisi tersebut. Setelah dicek ternyata dia adalah pemudik dari Jakarta. Maka tak lama ketua RT langsung membawa yang bersangkutan untuk diperiksa ke rumah sakit.

Cerita tersebut menandakan apa? Urgensi rukun tetangga! Sebab ego sosial kita sudah terlalu tinggi. Jujur saja kita yang hidup dalam moderinasai ini banyak tak mengenal tetangga kanan dan kiri. Mata kita sudah terlalu silau dengan layar gadget.

Jika dalam kondisi tak menentu ini Dasa Wisma kita terapkan kembali dengan memfungsikan instruksi Ketua RT maka usaha pemutusan rantai covid-19 akan lebih kondusif dan terarah. Sebab pada tingkatan RT lah tatanan terkecil hidup bermasyarakat. 

Kita tahu siapa yang Ojol, kita tahu siapa yang tukang becak, dan siapa yang pendapatannya harian. Sehinggga Pak RT dapat mencarikan solusinya. Bekerjasama dengan pemerintah daerah yang menyiagakan personilnya untuk membantu RT.

Bayangkan jika gerakan Dasa Wisma rukun tetangga ini masif dilakukan. Maka tak perlu lagi pemerintah bingung dan gaduh. Sehingga isolasi warga bisa berjalan dengan baik. Jauh lebih baik dari kata lockdown, yang tak sesuai dengan jati diri bangsa itu. 

Maka mari kembalikan kejayaan Dasa Wisma dan kewibaan Ketua RT, yang itu semua akan membantu mempercepat penanganan covid-19 ini. (*)

*) Penulis, Kiagus Firdaus, direktur TIMES Indonesia

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com