Corona dan Kesalahan yang Sempurna

Home / Kopi TIMES / Corona dan Kesalahan yang Sempurna
Corona dan Kesalahan yang Sempurna Ach Dhofir Zuhry.

TIMESMATARAM, JAKARTA – Apakah gawai Anda sudah dijejal-sesaki dengan berjibun disinformasi berita dan bertera-tera bit hoaks terkait coronavirus disease 2019 (covid-19) selama isolasi di rumah? Jika jawaban Anda ya, sudah saatnya "sosial media distancing" diterapkan bagi 175 juta lebih pengguna internet di Negeri ini. Jaga jarak dengan medsos, TV, dan grup-grup WA yang tak henti meneror kita dengan covid-19!

Bencana alam, ujian hidup, gelombang cobaan, wabah penyakit dan air mata sosial adalah sesuatu yang omnipresent, ada di mana pun manusia berada. Prinsipnya: hadapi atau lari. Tanpa terkecuali terhadap pandemi dunia, covid-19 yang hingga kini seluruh elemen bertungkus lumus mengatasinya dengan segala daya. 

Benderang sekali bahwa virus corona tidak mungkin turun dari langit. Banyak spekulasi dan konspirasi berhembus bahwa corona adalah senjata biologis bikinan Amerika dan Yahudi yang langsung menyerang jantung industri Tiongkok di Wuhan, dan tak lama kemudian obat-obatan segera didatangkan dari Kuba, sesama musuh AS. Menakjubkan, dalam sekejap Tiongkok berhasil recovery. Panik global, menguatnya dolar, bantuan Tirai Bambu untuk Negeri Pizza yang notabene sekutu Paman Sam, padahal kerjasama bilateral mereka tidak lebih signifikan ketimbang Indonesia tentu melahirkan sederet kecamuk tanya. Namun demikian, simpan dulu itu semua, mari kita dukung pemerintah dan tim medis kita menanggulangi ini semua dengan tidak menyusahkan mereka dan merasa sok ahli melebihi pakar.

Sementara itu, manusia adalah tempat bagi terus bergulirnya kesalahan dan kealpaan. Hilir-mudik kebahagiaan, silih-bergantinya penderitaan, tidak menentunya temperatur hati menyikapi cobaan, patah tumbuh hilang bergantinya peristiwa dan makna, pada gilirannya akan membentuk kepribadian manusia Indonesia yang tangguh. Dan, kabar baiknya, kita pernah kalahkan dan mengusir penjajah, menghadapi krisis moneter dengan santai dan ngopi, menghadapi politik SARA dengan tertawa, dll. 

Bahkan, kalau kita mau jujur, sejatinya kesalahan, bencana dan kemalangan lebih sering memberi "pelajaran" bagi proses pendewasaan diri. Dan kini, covid-19 sedang memberi pelajaran bagi seluruh bangunan peradaban umat manusia yang menjulang pongah dan jumawa. Saya jadi ingat waktu ujian di sekolah dulu. Manakala ujian sedang berlangsung, guru dan pengawas bisanya diam, bahkan sebagian menatap sinis. Tugas murid hanya mengerjakan soal-soal, bisa atau tidak. Demikianlah, lebih-kurang jawaban mengapa Guru (Tuhan) seolah diam dengan bencana. Tapi, apa yang salah dengan epidemi corona? 

Saya kadang bertanya, gerangan macam apakah "kesalahan" itu, sampai-sampai setiap orang harus belajar kepadanya. Punya nubuwat apakah kesalahan itu, sehingga para Nabi pun mengambil pelajaran darinya. Balakangan, para ahli dan pakar juga latah mengajak kita semua berguru pada kesalahan. Tak pelak, kesalahan terus menyejarah menjadi denyut peradaban umat manusia. Dan kepandiran paling memuakkan adalah yang dilakukan para warganet sok tahu sok ahli soal segala hal. Tengok saja, semua tiba-tiba menjadi "siluman" pakar corona pakar lockdown. Maha benar netizen dengan segala nyinyirnya. 

Tetapi, tahukah Anda bahwa dari sekian banyak kesalahan yang pernah manusia lakukan terdapat kesalahan yang sempurna? Apa itu, Nyisanak?

Ya, satu-satunya kesalahan yang sempurna adalah kesalahan yang kita tidak memetik pelajaran darinya. Bukankah tidak sedikit yang malah menggoreng malapetaka covid-19 ini secara politis? Oknum ustadz malpraktik, dai karbitan dan pseudo ulama dengan sangat lantang menyesatkan umat dengan ceramah nirmakna tunalogika bahwa ada konspirasi iblis dan alien di balik wabah ini. Setali tiga uang dengan politisi gagal, barisan petinggi parpol sakit hati, bekas jenderal sok relijius, oknum agamawan dan sederet sosialita defisit ilmu yang justru menambah kepanikan, alih-alih memberi solusi atau setidaknya menenangkan situasi. 

Kesalahan yang kita tak mau belajar darinya adalah kesalahan yang seharusnya tidak kita kehendaki. Kealpaan jenis inilah yang kerap mendatangi manusia dalam bentuk fanatisme, egoisme, dan absolutisme (pemutlakan pendapat), baik dalam bekerja, bernegara dan khususnya beragama: kering dan banal. 

Nah, di bawah level kesalahan sempurna, ada kesalahan yang nyaris sempurna. Apa itu? 

Ia tak lain reaksi-reaksi berlebihan kita sendiri dalam menyikapi pandemi covid-19. Kok bisa? Ya, sikap kebanyakan kita yang biasanya menisbatkan kegagalan, bukan kepada diri kita sendiri, entah itu kecerobohan atau kurangnya persiapan, tetapi malah menghubungkan kesalahan, kegagalan dan atau kemungkinan gagal pada situasi-kondisi yang tidak sanggup kita rubah, dengan alibi, "jangan takut corona, takutlah pada Allah!"

Tak jarang, kita buru-buru lasak dan gamang dengan meningkahi untuk kemudian meyakini bahwa tidak ada opsi perbaikan terhadap pandemi corona, sebelum kita mengujinya dengan berbagai cara dan pendekatan yang mangkus dan sangkil, setidaknya membiarkan pemerintah, tenaga medis, tim ahli dan pihak berwenang menangani sebaran virus ini.

Ketahuilah bahwa keyakinan jahiliyah ini, tak pernah datang sendirian. Pikiran negatif pasti disusul oleh keyakinan-keyakinan lain yang kontra produktif. Mindset ini jelas akan menghambat sukses seseorang, karena jangankan kepada orang lain, kepada diri sendiri saja tidak percaya. Inilah lingkaran setan dari sikap buruk dalam menghadapi kesalahan. Bukankah kita sering menggenaralisir masalah? Bukankah tak jarang kita menyalahkan situasi dan bahkan orang lain, semata untuk menutupi kekhilafan dan kejumudan kita? Sampai kapan pesimisme murahan dan ngelesisme kampungan akan terus kita bela demi ego kekanak-kanakan? Tim medis yang mati-matian menyabung nyawa dan sebagian gugur sebagai martir demi keselamatan kita itu juga saudara kita, apapun agamanya, mereka juga punya keluarga dan masa depan, mengapa sebagian kita masih kepala batu dan keras hati dengan terus mencaci, menyalahkan dan nyinyir? 

Tidak ada putih yang tidak berkemungkinan hitam, pun sebaliknya, ia senantiasa candramawa. Tak ada penyakit yang tak ada obatnya, ia berpulang pada kelapangan dada kita. Meragukan kemampuan diri dan pemerintah kita, mundur sebelum berperang melawan wabah ini, panik berlebih dan takut yang tak beralasan lainnya justru akan menyebabkan siapapun saja akan tergelincir jauh di kubangan derita, datanglah penyakit-lainnya yang justru lebih berbahaya dari covid-19 ini.

Bisa ditebak, orang dengan tipe ini akan segera menyalahkan nasib, menghujat keadaan, mencaci pemerintah dan tim medis dengan mengatasnamakan agama dan pada gilirannya akan menyalahkan Tuhan, sebab Tuhan dianggap lebih berpihak pada China dan Yahudi. Oleh karena itu, bencana, dalam pandangan para bijak bestari bukanlah bencana, ia adalah sikap kita sendiri terhadapnya. Rupa-rupanya, sikap yang keliru tentang kesalahan, jauh lebih berbahaya dan mamatikan dari pada kesalahan itu sendiri. 

Oleh karena itu, wabah corona lebih heboh kita dapati dalam lalu lintas daring daripada luring. Salah satu kesibukan saya adalah mengaji keliling kampung, tidak ada kepanikan pada wajah-wajah orang kampung itu. Di kampung, kehidupan berlangsung normal, cenderung santai, tidak heboh, ke sawah, pasar, melaut, dan bercengkrama dengan bersahaja. Ya, mereka jauh dari medsos dan kurang peduli pada TV. Tidak panik dengan oknum penimbun masker dan pembersih tangan. Memang, yang lebih kita cemaskan dari pandemi covid-19 ini adalah dampak ekonominya, bukan semata keselamatan jiwa kita. 

Namun demikian, pribadi yang progresif dan visioner akan menganggap kesalahan ban bencana sebagai "hadiah" dari Tuhan yang harus diinsyafi dengan tabah, semata demi perbaikan diri, pendewasaan hidup ini. Beruntunglah bagi siapa saja yang mengambil pelajaran dari kesalahan, merugilah yang enggan memaknai pahit kehidupan dan kealpaan. Semoga wabah ini segera berakhir, denyut kehidupan segera pulih, dan kita menjadi lebih manusiawi dalam berbangsa dan bernegara. Saatnya kita bersatu melawan corona, bineka tunggal doa, bineka tunggal usaha, bineka tunggal cinta. 

O ya, Kisanak, mari kita sambut gembira isolasi di rumah ini dengan berbahagia bersama anak-isteri, membentuk koloni (dan keloni), siap-siap saja dengan ledakan populasi tahun depan, tanpa menunggu bonus demografi 2045.

***

*) Penulis, Ach Dhofir Zuhry

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

_________
**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com