Mengarahkan Kembali Hakikat Merdeka Belajar Menuju Indonesia Maju Berkarakter

Home / Kopi TIMES / Mengarahkan Kembali Hakikat Merdeka Belajar Menuju Indonesia Maju Berkarakter
Mengarahkan Kembali Hakikat Merdeka Belajar Menuju Indonesia Maju Berkarakter Ikwan Efendi, S.Pd.I, M.Pd

TIMESMATARAM, MALANG – Pendidikan merupakan tumpuan utama dalam membimbing serta mengarahkan generasi Bangsa Indonesia, karena di dalamnya terdapat proses pembelajaran, bimbingan serta tujuan dilaksanakannya proses pembelajaran. Pelaksanaan proses belajar mengajar harus bertumpu pada siswa atau pelajar karena harapannya bukan guru yang punya karakter dan kreatifitas, melainkan siswanya sendiri.

Ketika harapan tidak sesuai kenyataan maka di situlah kegagalan yang harus ditanggung bersama. Pada prinsipnya pendidikan dilaksanakan untuk mengangkat harkat dan martabat manusia sebagai warga Negara Indonesia yang berhak mendapatkan perhatian pemerintah, perlindungan, dan pendidikan. 

Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, didasarkan pada tabiatnya manusia akan selalu melakukan perkembangan pada arah yang lebih baik, namun masih banyak kontroversi yang menyebabkan multitafsir antara satu persepsi dengan persepsi yang lain. Haal itu dilatar belakangi adanya perbedaan sudut pandang sehinga interpretasi memaknai pendidikan berbeda-beda, namun punya tujuan yang sama.

Isu pendidikan yang saat ini menjadi perbincangan hangat bagi kaum akademisi terutama para kepala sekolah, guru dan juga pemerhati pendidikan  yaitu penghapusan Ujian Nasional Bebrbasis Komputer (UNBK) sebagai program kementrian pendidikan dan kebudayaan karena dianggap sudah tidak relevan lagi untuk menjadi ukuran keberhasilan dalam pelaksanaan pendidikan. Terkesan terlalu memaksakan pada siswa, mengenai adanya program-program yang sdauah diadakan sebelumnya, padahal program UNBK juga menjadi kebijakan pusat yang dalam hal ini kementrian pendidikan dan kebudayaan. 

Konsep merdeka belajar sebagaimana yang disampaikan oleh bapak mentri pendidikan dan kebudayaan, bagaimana sekiranya menciptakan susasana belajar yang menyenangkan untuk semua warga sekolah yakni menyenagkan pada siswa, orang tua, bahkan guru sebagai satu-satunya tumpuan harapan pendidikan. Pendidikan tidak lagi menyesakkan siswa dengan batasan nilai kelulusan yang terkesan memaksakan, membebani orang tua mewajibkan bimbel, atau pun akan membebani guru dalam menenmpuh target-target tujuan yang harus dicapai, namun banyak guru stres dengan aturan yang tidak dapat diukur hasilnya.

Semua sekolah pasti ingat dengan kebijakan pemerintah tentang batasan kelululsan siswa yang harus dicapai, dimana aturan tersebut Paserta UN dinyatakan lulus jika memenuhi standar kelulusan UN yakni  memiliki nilai rata-rata minimal 5,25 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan hal ini terjadi pada tahun 2007 silam. Satu sisi kebijakan tersebut memang untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia agar supaya lebih baik dengan adanya penerapan penetapan nilai yang harus dipenuhi, namun di sisi yang lain banyak siswa yang menjadi korban karena tidak mampu memenuhi standar kelulusan akhirnya siswa yang dinyataklan tidak lulus dalam satuan lembaga pendidikan harus mengulang lagi dan menunggu satu tahun lamanya. Adanya siswa yang dinyatakan tidak lulus justru akan membuat siswa down, patah semangat bahkan banyak siswa yang seharusnya melanjutkan ke prguruan tinggi tetapi mereka masih harus mengulang di jenjang pendidikan SMA.

Di samping itu dengan adanya kebijakan standar kelulusan harus mencapai nilai rata-rata minimal 5,25, banyak orang tua siswa yang mengeluh karena harus menanggung biaya Bimbingan belajar (Bimbel). Semua orang tua dengan segala cara dan usaha memenuhi kebutuhan anknya hanya demi kebijakan pemerintah yang tidak seharusnya menjadi beban orang tua karena adanya bimbel tersebut tidak menjamin pada kemampuan siswa yang kemampuannya berada dibawah rata-rata. Siswa yang diikutkan bimbel juga tidak ada perkembangan, sementara orang tuanya sudah menghabiskan biaya yang begitu besar. Kenyaatan ini jangan sampai terulang kembali karena hanya akan membuang waktu dan akan menyita waktu dalam menempuh tujuan pendidikan yang tertuang dalam UUD 1945.

Kebijakan pemerintah seharusnya tidak hanya bertumpu pada nilai-nilai yang harus tercapai karena nilai bukan segalanya. Nilai hanyalah sebatas representativ diskriptif sebagai dasar evaluasi proses belajar mengajar yang ada di sekolah, tetapi yang lebih penting dari nilai yaitu ketertinggalan bangsa ini dalam menyaiapkan generasi masa depan yang siap menghadapi segala problemnya. Dimana setiap orang akan menjalani fase demi fase demi mewujudkan cita-citanya menuju kesusksesan tersendiri. Jangan biarkan para penerus bangsa ini patah semanangat, tidak punya tujuan dan bahkan tidak mempunyai bekal untuk menjalani kehidupan berikutnya.

Pemerintah juga harus memahami apa yang dibutuhkan pendidikan untuk bangsa Indonesia serta apa yang dibutuhkan siswa. Ketika siswa sudah memenuhi standar kelulusan, namun bagi siswa prestasi yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi masih bingung mereka harus melakukan apa dan mau kemana setelah dinyatakan lulus dari satuan pendidikan SMA. Hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama bukan hanya pemerintah, bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi semua unsur yang terlibat didalamnya menjadi tanggung jawab bersama sebagai pemerintah, sekolah, kepala sekolah, guru dan orang tua dalam mengarahkan, mengajari bahkan mengantarkan mereka menuju kehidupan yang lebih baik (Kesuksesan dunia akhirat).
 
Hakikat Merdeka Belajar Bagi Guru, Siswa dan Orang Tua

Merdeka Belajar merupakan program unggulan yang dicetuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 2019. Yang dimaksud oleh Merdeka Belajar ala Menteri Teknologi dalam kebijakan strategisnya adalah Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajara (RPP) dan Zonasi. Namun dari sisi lain Merdeka Belajar bukan hanya diruangan kelas, bisa menjawab pertanyaan guru, bermimpi hanya sebatas menunjuk tangan tatkala dikasih pertanyaan, namun Merdeka Belajar adalah mempunyai jiwa dan cita-cita melampaui langit yang melampaui ruang kelas dan batas dunia, ini akan terjadi apabila seorang pendidik memiliki kemerdekaan dalam mengajar. Satu pertanyaan yang wajib kita jawab secara bersama, apakah kita sebagai seorang pendidik sudah merasa merdeka dalam belajar. Itu adalah konsep awal dalam mewujudkan kemerdekaan dalam belajar. Merdeka Belajar merupakan tindakan yang bebas tanpa ada batasan dan kritikan.

Dewasa ini banyak terjebak dengan istilah sehingga mudah terlena dengan hal-hal baru akhirnya seorang guru tidak fokus pada tujuan utama yaitu mencetak generasi muda yang mapan secara intelektual dan moralitasnya. Banyak guru yang disibukkan dengan sistem administrasi yang tidak jelas dan target nilai yang terkesan memaksakan siswanya. Padahal setiap individu pasti berbeda-beda kemampuannya, terpenting dalam mengarahkan siswa seoarang guru harus memberikan kebebasan belajar dimapaun dan kapanpun mereka akan memilih jalannya sendiri karena setiap siswa punya potensi serta bakat yang berbeda. Potensi dan bakat yang dimiliki siswa dirasa perlu untuk diarahkan agar supaya potensi dan bakat tersebut bisa dikembangkan sesuai keinginannya masing-masing.

Seorang siswa akan dikatakan belajar apabila dia sudah melakukan perubahan atas tingkah lakunya yang diakibat oleh adanya stimulus dan respon, oleh karena itu teori ini disamping disebut teori belajar menurut aliran behavoirisme juga diasumsikan sebagai teori tingkah laku. Teori belajar yang lain juga dijelaskan menurut aliran kognitivisme menganggap proses belajar dikaitkan dengan proses berfikir dan titik tumpunya mengajarkan siswa untuk berfikir sesuatu, sehingga aliran ini lebih menekankan pada bagaimana pola berpikir anak dilatih agar lebih terkonsep cara berpikirnya. 

Selain di atas juga terdapat teori belajar humanistik merupakan suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia. Dalam pembelajaran lebih mengutamakan pengembangan potensi diri peserta didik, dalam teori ini belajar dianggap berhasil jika peserta didik memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Masih banyak teori belajar yang menafsirkan tentang proses belajar tergantung guru mau memandang dari sudut mana yang terpenting tetap pada tujuan utama tidak memaksa siswa diluar jangkauan kemampuan mereka.

Proses pembelajaran yang dipaksakan pada siswa sudah pasti tidak akan menghasilkan hasil yang maksimal, akhirnya juga akan membebani pada orang tuanya. Kondisi siswa dalam proses belajar tidak akan merasa senang karena adanya paksaan dari guru yang membuat perasaan siswa merasa jenuh mengikuti penjelasan gurunya. Dikala target nilaipun diatur juga secara tidak langsung akan membebani orang tua untuk mewajibkan anaknya mengikuti bimbingan belajar (bimbel) diluar sekolah yang tidak sedikit menghabiskan biaya bimbel yang harus ditempuh, sehingga yang diuntungkan pihak-pihak tertentu. 

Mendeka Belajar Menuju Indonesia Maju dan Berkarakter

Merdeka belajar bukanlah sesuatu yang baru karena pada sebelumnya sudah sering didengar tentang konsep merdeka belajar menurut beberapa ahli hanya saja pada tahun 2019 mentri pendidikan yang baru yakni nadiem makarim menjadikan merdeka belajar sebagai prioritas program yang harus dijalankan. Para ahli tarmasuk para pakar pendidikan menjelaskan mengutip perkataan Ki Hajar Dewantara Kemajuan Negara merupakan kemajuan bangsanya, dan kemajuan bangsa merupakan kemajuan pendidikannya. Konsep ini menjelaskan pada kita semua bahwasanya untuk memajukan suatu bangsa yaitu dengan cara mengembangkan pendidikannya, tetapi perlu digaris bawahi juga mengembangkan pendidikan bukan diinterpensi sebagai menghapus system atau program yang sudah berjalan melainkan mengevalusi program yang sudah berjalan serta menyempurnakan kekurangan dari evaluasi yang dilakukan secara berkesinambungan.

Disadari atau tidak dengan adanya penghapusan system yang sudah berjalan secara tidak langsung juga akan mengakibatkan pada penurunan kemajuan pendidikan. Salah satu contoh pada tahun 2015 semua lembaga pendidikan diwajibkan melaksanakan ujian berbasis komputer baik pelaksanaan USBN-BK dan UNBK yang aturan-aturannya diatur dari pusat sehingga setiap sekolah harus menyiapkan media yang dibutuhkan seperti internet, computer server dan clien yang biayanya cukup besar, kemudian pada tahun 2021 yang akan datang akan ditiadakan untuk pelaksanaan USBN-BK dan UNBK maka hal ini akan menjadi tidak modern lagi untuk pelaksanaan pendidikan.

Sementara untuk aturan strandar kelulusan diserahkan pada satuan pendidikan masing-masing juga akan mengakibatkan perbedaan strandar nilai yang berbeda-beda. Dari segi lain juga,  Pendidik sebagai pemilik kekuatan moral (moral force), memiliki peran penting dalam meningkatkan potensi peserta didik di sekolah. Pendidik tidak hanya menyampaikan pelajarannya (transfer of knowledge), melainkan harus dengan nilainya (transfer of value). Pendidik tidak hanya menyampaikan tentang contoh akhlak terpuji dan akhlak tercela, melainkan memberikan teladan bagi peserta didiknya. Pendidik tidak hanya memberikan motivasi dengan kata-kata saja, melainkan dengan karya nyata. Perilaku tersebut sebagai stimulus pendidik kepada peserta didiknya, agar peserta didik memberikan respon yang positif dan terasakan langsung sebagai teladan baginya.

Oleh karena itu, pengembangan pendidikan harus didasarkan pada upaya peningkatan potensi sumber daya manusia yang akan meneruskan estafet kepemimpinan masa depan bangsa ini, itulah yang menyebabkan pendidikan menjadi syarat utama penentu kemajuan dan kemunduran suatu Negara. Bukan didasarkan pada kebijakan-kebijakan pemerintah yang malah merugikan banyak pihak termasuk satuan pendidikan yang sudah menysusun program-program sekolahnya yang sudah sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Pengembangan potensi pendidik juga menjadi dasar perkembangan pendidikan karena tidak mungkin bahkan sangat mustahil seorang guru mampu akan melakukan perubahan, inovasi pembelajaran dan mencetak anak didiknya menjadi kritis apabila seorang guru belum mampu melakukan perubahan pada dirinya sendiri. Tidak hanya demikian, disamping potensi akademik yang harus dikembangakan seorang guru harus mampu menjadi teladan (Uswatun Hasanah) bagi para siswa-siswinya.  Harapannya pada semua satuan pendidikan mampu menyiapkan penerus generasi bangsa yang kritis secara intelektual, membidangi berbagai keterampilan dan berkarakter (Moralitas).


*) Penulis adalah Kepala SMA Raudlatul Falah dan Mahasiswa Program Doktoral (S3) di Universitas Islam Malang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com